Selasa, 30 November 2010

Bromo – Tengger – Semeru


Keindahan Alam Bromo – Tengger – Semeru

Wow begitu dinginnya suhu di Bromo, jadi siapkanlah baju hangat, pe­nutup kepala, dan kaus tangan untuk menahan dingin,jika anda berkeinginan untuk berkunjung ke kawasan pegunungan Bromo - Tengger - Semeru.
Dinginnya angin gunung sudah terasa di badan ketika sampai di Desa Kunci (± 600 m dpl), kecamatan Tumpang, ± 20 km timur Ma­lang. Inilah salah satu jalan menuju Taman Nasional Bromo - Tengger - Semeru. Jalur itu bukanlah jalan yang sudah dikenal, yakni langsung me­nuju Gunung Bromo lewat Kota Probolinggo. Pemandangan di jalur ini lebih indah dan menantang. Rute ini biasanya dipakai oleh para pencinta alam un­tuk mencapai Ranupani, desa terakhir ke Gunung Semeru sejauh ± 45 km yang hanya bisa dilalui jip dengan penggerak empat roda.
Jip bisa disewa dari penduduk yang bertempat tinggal di Kunci.

Memasuki pintu gerbang kawasan Bromo - Tengger - Semeru, Desa Kunci yang berada di bawah bisa dilihat dengan jelas. Asri, Rumah­-rumah berderet rapi di kiri ­kanan jalan utama mengikuti kontur tanah yang naik-turun dengan kebun buah dan sayur­an berada di belakang rumah. 

 Banyak pohon Apel Rome Beauty tampak dibudidayakan di tepian jalan. Buahnya lebat, bergelantung­an di ranting yang tingginya tak lebih dari 2 m. Warna buah­nya khas, sem­burat merah muda di bagian yang terke­na sinar mata­hari dan hijau di bagian yang teduh.
Dengan bertambahnya ketinggian, komposisi tumbuhan pun berubah. Hutan hujan pegunungan dengan domina­si pohon pinus, Acacia, dan cemara gunung dengan tum­buhan penutup tanah bunga terompet dan lantana. Amat menawan sekali.
Setelah satu setengah jam perjalanan sampailah di Desa Ngadas, satu-satunya desa di lintasan ini. 
 Penduduk disini mayoritas me­meluk agama Hindu. Uniknya, hampir semua penduduk ber­kerudung sarung. Agaknya sarung itu untuk melawan hawa dingin yang selalu me­nyelimuti daerah itu. Rumah-­rumah permanen dengan ja­lanan yang diplester semen mencerminkan kehidupan me­reka yang cukup sejahtera. Roda perekonomian ditopang oleh produksi kentang, wortel, kol, dsb, yang ditanam di bukit-bukit sekitar desa.
Beberapa kilometer mele­wati Desa Ngadas, jalanan berganti menjadi pasir halus yang mudah longsor. Penge­mudi harus ekstra hati-hati di tempat ini apalagi jurang menganga di kedua sisi jalan. Pemandangan semakin elok. Di sisi kiri sejauh mata me­mandang tampak lembah hi­jau yang sangat luas. Dari atas laksana padang rumput berlatar belakang dua gunung hijau. Di tengah "padang rumput" itu terlihat dua garis meliuk-liuk.

 Desa Ranupani (± 2.500 m). Dusun yang dihuni 1.030 jiwa ini merupakan persinggahan ter­akhir para pendaki sebelum naik ke Gunung Semeru. Dari sini puncak Mahameru, gu­nung tertinggi di P. Jawa, bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 6 jam. Sebagai tempat transit para pendaki, Ranupani menyimpan potensi keindahan alami dengan ada­nya danau atau ranu, yakni Ranu Pani dan Ranu Regulo.
Di Ranu Pani terdapat se­buah home stay dan warung yang berada tepat di pinggir jalan desa. Di musim pendakian dan li­buran (Mei - Oktober), penginapan yang dilengkapi de­ngan warung ini tak pernah sepi dari turis mancanegara. Masakan khas Jawa tersedia semisal soto, kare, rawon, dsb. Juga berbagai jenis minuman ringan. Desa Ranupani bisa jadi contoh bagaimana serasinya hubungan antar pemeluk aga­ma,toleransi beragama sangat tinggi. "Me­nyongsong peringatan salah satu agama, pemeluk agama lain dengan sukarela tak se­gan-segan berpartisipasi." Tak heran bila di desa yang ka­dang dilanda hujan es di musim kemarau ini terdapat tiga tempat ibadat : pura, masjid, dan gereja.
Dari sini, perjalanan menuju Bromo masih harus dilanjutkan. Jalan ke arah padang rumput Bromo sepanjang 3 km itu kondisi­nya amat tidak layak dile­wati. Menurun dengan batu­-batu besar yang berserakan di tengah jalan, menyerupai sungai kering. Sesampai di lembah, baru ke­tahuan padang rumput yang kelihatan dari atas tadi ter­nyata berupa semak yang di­dominasi oleh tumbuhan paku, cemara gunung, dan rumput liar. Suasana sangat eksotis. Tak ada suara selain desir angin gunung yang bertiup kencang.
Mendekati kawasan Bromo padang rumput itu se­cara berangsur-angsur hilang digantikan oleh lautan pasir. Alur jalan pun menjadi tidak kentara. Bahkan bekas-­bekas roda di pasir mudah hilang tertutup pasir yang tertiup angin. "Makanya kalau lewat sini harus siang, kalau sampai kemalaman bisa-bisa kita kesasar”.
Lautan pasir ini merupa­kan ekosistem yang unik sebagai hasil letusan Gunung Tengger Purba. Kaldera seluas ± 5.250 ha itu berbentuk lingkaran dengan garis te­ngah terpanjang 8 km dan terpendek 6 km. Dinding kal­dera berketinggian antara 120 - 130 m dengan kelerengan antara 60°- 80°. Diatas ham­paran laut pasir itu terdapat beberapa gunung, yakni Bro­mo (2.392 m), Batok (2.440 m), Kursi (2.581 m), Widodaren (2.614 m), dan Watangan (2.601 m).
Untuk melihat matahari terbit anda harus menuju gunung Pananjakan. Perjalanan ke gunung Pananjakan dapat ditempuh se­lama ± 45 menit. Inilah tempat paling strate­gis melihat kawasan Bromo dan sekitarnya dari ketinggian 2.700 m. Sebetulnya melihat matahari terbit di musim hu­jan itu bisa dibilang untung­-untungan.
 Dari padang pasir di kaki gunung, puncak Bromo tampak tak begitu tinggi. Tapi be­gitu mulai mendaki, jalan mendaki ini cukup melelahkan. Untuk sampai di atas perlu usaha keras meniti 249 buah tangga. Dari bibir kawah itu bisa dilihat pemandangan ke arah Bromo. Asap beraroma bele­rang keluar dari lubang di dasarnya. Bila arah angin tiba-tiba berubah, arah asap dengan bau belerang juga berubah mengikuti arah angin. Asap itu harus dihindari karena kalau sampai terhirup kontan akan batuk-batuk.
Sampai kini, Bromo ada­lah gunung yang masih aktif dan secara teratur mengeluar­kan asap. Jarak dari Cemorolawang ke Bromo ± 2,5 km. Suhu tahunan berkisar antara 3 - 18°C dengan kelembaban 42-97%. Bagi masyarakat Tengger, Bromo dipercaya sebagai gunung suci. Mereka selalu menjaga tindak-tanduk di kawasan ini.
Pada akhir Oktober atau November ma­syarakat Tengger di kawasan Bromo mengadakan upacara Kasada. Dengan aneka sesajian mereka berdoa di pura yang ada di kaki Bromo. Usai dimantrai sesaji­an itu dilempar ke kawah se­bagai tanda penyerahan pa­da Kusuma, putra ke-25 dari Lara Anteng dan Jaka Seger sebagai cikal bakal masya­rakat Tengger.
Kedekatan dengan Gunung Bromo ini membuat masyarakat Hindu disini tak pernah gentar, pun tatkala gunung ini meletus. Terbukti, kawasan Bromo tak cuma menyimpan keindahan, tapi juga legenda. Inilah agaknya yang membu­at eksotisme Taman Nasional Bromo - Tengger – Semeru layak ditengok.