Sabtu, 18 Desember 2010

Riwayat Nabi Kong Hu Cu( Bagian 3)

MELIHAT MUSEUM DINASTI CIU 

Dinasti Ciu mewarisi dan mengembangkan Kesusilaan, kebudayaan dan peradaban dinasti-dinasti sebelumnya. Meskipun pada jaman Chun Chiu dinasti Ciu sudah lemah, namun di dalam museum kerajaan terlihat warisan kebudayaan dan peradaban purba itu. Nabi sangat terkesan setelah kunjungan itu, beliau bersabda, “Aku dapat membicarakan Kesusilaan Kerajaan He, tetapi negeri Ki tidak cukup memberi kenyataan. Lalu Kupelajari Kesusilaan Kerajaan In, ternyata negeri Song masih dapat memeliharanya. Akhirnya Kupelajari Kesusilaan Kerajaan Ciu yang saat ini masih dijalankan. Maka Aku mengikuti kerajaan Ciu.” (Tiong Yang XXVII : 5)
Beliaupun bersabda, "Pakailah penanggalan Dinasti He. Gunakanlah ukuran kereta Kerajaan In. Kenakanlah topi kebesaran Kerajaan Ciu dan bersukalah di dalam musik Siau dan Bu."
(Lun Gi XV : 11)
KUIL LELUHUR DINASTI CIU
Kuil leluhur dinasti Ciu dibangun untuk menghormati Ho Ki, Menteri Pertanian pada jaman Raja Suci Giau dan Sun yang dianggap sebagai nenek moyang raja-raja dinasti Ciu. Di Kuil itu Nabi melihat banyak gambar raja-raja purba, baik yang bijaksana maupun yang lalim. Setelah melihat gambar-gambar itu, Nabi bersabda, "Sekarang Aku mengetahui betapa suci pangeran Ciu Kong dan sebab dinasti Ciu mampu menciptakan kesejahteraan dan perdamaian." Pangeran Ciu ialah Nabi Ki Tan, putera ke empat Nabi Ki Chiang, adik Raja Bu pendiri dinasti Ciu. Setelah Raja Bu wafat, pangeran Ciu menjadi wali putera mahkota yang masih kanak-kanak dan atas kebijaksanaan pangeran Ciu dapat dilestarikan kejayaan dan kesejahteraan ini sampai beberapa generasi. Putera Mahkota itu setelah naik tahta bergelar Ciu Sing Ong.

GAMBAR PANGERAN CIU
Nabi sangat tertarik pada gambar yang melukiskan Pangeran Ciu bersama putera mahkota dan seorang kemenakan putera mahkota. Pangeran Ciu memerintah dinasti Ciu atas nama putera mahkota.
Setelah mengamati gambar, Nabi sangat terharu dan bersabda, “Kejayaan dinasti Ciu berdiri atas semangat pengabdian ini. Bila orang bercermin ia akan melihat wajah dan tubuh sendiri, begitupun bila orang hendak mengetahui jaman sekarang, hendaklah menengok ke jaman yang sudah lampau itu." Oleh semangat pengabdian dan pengorbanan itulah Jalan Suci dapat diselenggarakan dan pembangunan disukseskan. Tanpa pengorbanan dan pengabdian yang disertai Cinta Kasih sejati, tidak akan ada pekerjaan besar dapat ditegakkan. "Bila seseorang benar-benar mencintai, dapatkah tidak berjerih payah ? Kalau seseorang benar-benar Satya, dapatkah tidak memberi bimbingan ? "    (Lun Gi XIV : 7)

BERTEMU GURU MUSIK TIANG HONG
Nabi belajar musik raja Bu, lagu kepahlawanan yang sangat dipuji akan keindahan serta kemegahannya, namun tidak dikatakan sempurna. Guru Musik Tiang Hong sangat terkesan terhadap kehalusan jiwa dan kepribadian Nabi, ia berkata, "Telah dalam-dalam kupelajari tentang pribadi Khongcu, ia sungguh seorang Nabi. Matanya bagai Sungai Kuning, dahinya bagai naga inilah sifat-sifat yang dimiliki raja suci Ui Tee. Lengannya panjang, punggungnya bagai kura-kura, dan bertinggi badan 9 kaki, ini mirip baginda Sing Thong. Percakapannya selalu tentang rajasuci-rajasuci purba. Gerak dan lakunya selalu dan penuh kerendahan hati. Pengetahuannya sangat luas dan ingatannya kuat serta jelas. Bukankah di dalam dirinya kita lihat sifat-sifat seorang Nabi ?"
Memang THIAN telah mengutusNya sebagai Nabi. (Lun Gi IX : 6)

KEMBALI KE NEGERI LO
Sepulang Nabi dari negeri Ciu, namanya makin termasyur. Dari segenap pelosok orang datang kepada-Nya untuk menerima bimbingan. Dalam hal ini nampak kebesaran pribadiNya :
Beliau menerima murid dari berbagai negeri dan berasal dari berbagai golongan, ada yang bangsawan, perwira, pedagang, petani dan sebagainya. Beliau berprinsip, "Ada pendidikan, tiada perbedaan. " (Lun Gi XV : 39) Maka beliau disebut sebagai Bapak Pendidikan Bagi Seluruh Rakyat, Guru Teladan Berlaksa Jaman. Nabi bersabda, "Belajar dan selalu dilatih, tidakkah itu menyenangkan ? Kawan-kawan datang dari jauh, tidakkah itu membahagiakan ? Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali; bukankah ini sikap Susilawan ? (Lun Gi I : 1)
Demikianlah murid Nabi bertambah, yaitu murid-murid dari angkatan tua, seperti Gan Kwi Lo ayah Gan Hwee, Cing Tiam ayah Cingcu.