Sabtu, 18 Desember 2010

Riwayat Nabi Kong Hu Cu( Bagian 8)


CU LO TIDAK SENANG
 
Meski Nabi telah memberi penjelasan tentang pertemuan dengan Lamcu itu, Cu Lo yang cara berfikirnya sederhana, lugu dan terus terang apa adanya, menunjukkan sikap dan wajah tidak senang karena beranggapan hal ini merendahkan martabat Gurunya. Di negeri Wee ini, disatu pihak Nabi selalu diterima dengan hormat, tetapi sering menerima perlakuan tidak pantas. Hal ini mungkin bukan maksud Rajamuda Wee Ling Kong, tetapi sifat pangeran yang lemah sering dimanfaatkan orang-orangnya yang tidak bertanggung jawab. Suatu hari pangeran mengajak Nabi berkeliling ibukotanya, pangeran bersama Lamcu duduk di kereta di belakangnya. Rakyat melihat peristiwa itu berteriak, “Nafsu di depan, Kebajikan di belakang !" Nabipun bersabda, "Aku belum pernah melihat seseorang yang mencintai Kebajikan seperti mencintai keelokan."  (Lun Gi IX : 8)
BATAL MENYEBERANGI SUNGAI KUNING
Ketika sampai di tepi sungai beliau mendengar kabar bahwa Too Bing Tok dan Sun Hwa telah mati dibunuh. Nabi bersabda, "Alangkah indahnya air ini, bergolak-golak mengalir sepanjang masa. Sayang, Khiu tidak dapat menyeberanginya, inilah Firman.” Mendengar kata-kata itu, Cu Khong maju bertanya, "Memberanikan bertanya, apa yang Guru maksudkan ?” Nabi bersabda, "Too Bing Tok dan Sun Hwa adalah menterimenteri bijaksana dari negeri Cin. sebelum Thio Kancu mendapatkan kekuasaan, ia mengandalkan kedua orang itu, tetapi kini ia telah membunuhnya. Aku mendengar, bila orang membunuh binatang yang sedang hamil atau anak-anaknya, kilin tidak mau datang ke tempat itu. Bila orang mengeringkan telaga dan sungai untuk mendapatkan seluruh ikan-ikannya, naga-naga tidak mau menetap di situ .... Seorang Susilawan menghindarkan penderitaan sesamanya."

BERKUNJUNG KE KOTA SIAP
Suatu ketika, Nabi meninggalkan negeri Tin menuju ke negeri Chai dan dari sana berkunjung ke kota Siap. Kepala Kota ini menyebut diri RaJamuda Siap, ia berlindung kepada negeri Cho. Rajamuda Siap sangat sangat gembira menyambut kedatangan Nabi. Suatu hari ia bertanya kepada Nabi tentang pemerintahan dan dijawab, "Pemerintahan yang baik dapat menggembirakan yang dekat dan dapat menarik yang jauh untuk datang" (Lun Gi XIII : 16)
Sesungguhnyalah Nabi di dalam mengemban tugas suci sebagai Bok Tok, Genta Rohani Thian, tidak pernah merasa lelah dan jemu dalam belajar dan menyebarkan Ajaran Suci untuk mengajak manusia menjunjung ajaran Agama, menempuh Jalan Suci, menggemilangkan Kebajikan sehingga kehidupan insan boleh mencerminkan kebesaran dan kemuliaan Thian dan hidup beroleh berkah sentosa.

TIANG CHI DAN KIAT LIK
Nabi menyuruh Cu Lo menanyakan penyeberangan. Tiang chi membalas bertanya, "Siapakah memegang kendali kereta itu ?" Cu Lo menjawab, "Dialah Khong Khiu".  “Khong Khiu dari negeri Lo ?" "Benar !" Tiang Chi berkata, "0, Dia tentu tahu tempat penyeberangannya", lalu meneruskan meluku sawahnya. Satu    lagi ,    Kiat Lik membalas bertanya, "Siapakah anda ?”
"Tiong Yu." “0,penganut Khong Khiu dari negeri Lo itu ?” "Benar !" Kiat Lik berkata, "Banjir sudah melanda segala sesuatu di dunia ini, siapakah yang dapat memperbaiki ? Bukankah lebih baik ikut aku menyingkari masyarakat ?” Nabi prihatin, "Kita manusia, tidak dapat hanya hidup bersama burung-burung dan hewan. Bukankah Aku ini manusia ? Kepada siapakah Aku harus berkumpul ? Kalau dunia dalam Jalan Suci, Khiu tidak usah berusaha memperbaikinya. " (Lun Gi XVIII:6)

ORANG TUA MENGGALAS KERANJANG RUMPUT
Dalam perjalanan kembali ke negeri Chai, suatu hari Cu Lo tertinggal di belakang dan berjumpa dengan seorang tua dengan pikulannya menggalas keranjang rumput. Cu Lo bertanya, "Berjumpakah bapak dengan guruku ?" Orang tua itu berkata. "Hai orang yang keempat anggota tubuhmu tidak dapat bekerja dan tidak dapat membedakan kelima macam hasil bumi, Siapakah yang mengenal Gurumu ?", Kemudian orang itu mengajak Cu Lo menginap di rumahnya. Disana ia dijamu dengan ramah. Keesokkan harinya Cu Lo setelah bertemu Nabi melaporkan pengalamannya. Nabi bersabda, "Dia seorang yang menyembunyikan diri." Lalu Cu Lo disuruh menjumpainya lagi, sayang setibanya disana ternyata orang itu telah pergi.

MENDERITA DI ANTARA NEGERI TIEN DAN CHAI
Ketika Nabi Khongcu berada di antara negeri Tien dan Chai negeri Go telah menyerang negeri Tien dan negeri Cho telah mengirim pasukannya untuk menolong negeri Tien. Menteri-menteri negeri Tien dan Chai merasa khawatir jika orang-orang negeri Cho mengundang Nabi untuk mengangkatnya sebagai menteri. Maka mereka pura-pura melakukan perang dengan tujuan menghalangi dan mengurung Nabi. Cukup lama mereka terkurung, banyak murid menjadi begitu lemah, tetapi Nabi tetap tekun mengajar, mengajak mereka menyanyi mengikuti irama musik. Cu Lo dengan kurang senang berkata, 'Dapatkah seorang Susilawan menderita semacam ini ?' Nabi bersabda, "Seorang Susilawan dapat menderita semacam ini, tetapi seorang rendah budi bila menderita lalu berbuat tidak-tidak. "
(Lun Gi XV : 2)