Sabtu, 18 Desember 2010

Riwayat Nabi Kong Hu Cu( Bagian 2)


WAFAT SIOK LIANG HUT
 

Siok Liang Hut yg perwira negeri Lo itu, sesungguhnya telah lanjut usia betapapun perkasa ternyata waktu dan usia telah merenggut kesehatannya. Suatu hari beliau jatuh sakit berbagai ramuan dan obat diusahakan, tetapi tidak menolong dan akhirnya beliau wafat, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ketika itu Nabi Khongcu baru berusia tiga tahun. Demikianlah sejak kecil Nabi Khongcu diasuh oleh Ibunda Tincai beliau diasuh bersama kakaknya di rumah nenek luarnya. Meskipun hidup didalam kesederhanaan dan kemiskinan, masih beruntunglah beliau karena ibu Tincai ber asal dari keluarga terpelajar lagi sastrawan. Nabi pernah bersabda,"Pada waktu muda Aku banyak menderita."
Tetapi beliaupun bersabda, "Justru karena Aku tidak diperdulikan dunia, maka lebih banyaklah pengetahuan yang kuperoleh. " (Lun Gi IX :6-7)
MASA BERMAIN NABI KHONGCU
Ketika Nabi berusia empat, beliau biasa bermain bersama kawan-kawan sebaya di sekitar kediamannya. Ada suatu sifat istimewa pada beliau, di dalam bermain mempunyai kesukaan memimpin kawan-kawannya menirukan orang-orang melakukan upacara sembahyang. Kepada ibunda Tincai, beliau meminta beberapa buah alat sembahyang tiruan Coo dan Too; dijajar-jajarkan di atas meja dan memimpin kawan-kawan itu seolah-olah sungguh-sungguh melakukan sembahyang. Coo adalah semacam kotak untuk menempatkan manisan dan Too ialah semacam mangkok. Keduanya adalah alat-alat dalam upacara sembahyang pada musim-musim tertentu pada jaman itu. Hal di atas menunjukkan sifat beliau yang sejak kecil sudah tertarik akan adat-istiadat bersembahyang dan beribadah; suatu sifat yang lain sekali bila dibandingkan anak-anak kecil lain.

MASA SEKOLAH NABI KHONGCU
Mula-mula Nabi menerima pendidikan dasarnya dari Ibundanya, Juga mendapat bimbingan nenek luarnya. Ketika berusia tujuh tahun secara formal disekolahkan di perguruan Yan Ping Tiong, seseorang yang kemudian termashur sebagai perdana menteri negeri Cee. Pada jaman itu, yang diterima menjadi murid setelah berusia delapan tahun. Mereka diajar cara menyiram, membersihkan lantai, bertanya-jawab dengan guru di samping pendidikan budi pekerti, musik, naik kuda, memanah, bahasa dan berhitung. Nabi bersabda. "Pada waktu berusia 15 tahun, sudah teguh semangatku. "(Lun Gi II : 4)
Ini menunjukkan sejak usia 15 tahun beliau telah bertekad meluaskan pengetahuannya dengan kekuatan rohani yang diwahyukan kepadanya. Di sekolah, karena kemajuannya yang pesat, sering ditugasi bapak guru membantu mengajar murid-murid lain.

PERNIKAHAN
Dari masa sekolah sampai menjelang dewasa tidak banyak kejadian penting yang dapat diceritakan.
Ketika beliau berusia 19, sesuai adat jaman itu, beliau dinikahkan dengan seorang gadis dari keluarga Kian Kwan dari negeri Song. Pernikahan ini hanya dirayakan secara sederhana, tidak disuasanai kemeriahan pesta melainkan suasana rohani yang suci dan khidmat mengantarnya, disucikan dan diteguhkan dengan melakukan ibadah besar kepada Thian, dan arwah leluhur.
"Bila tiada keselarasan antara langit dan bumi, takkan turnbuh segenap kehidupan. Upacara pernikahan ialah pangkal peradaban sepanjang jaman. Dia bermaksud memadukan dan mengembangkan benih kebaikan dua jenis manusia yg berlainan keluarga untuk melanjutkan Ajaran Suci para Nabi, ke atas untuk memuliakan Firman Thian, mengabdi leluhur dan ke bawah meneruskan keturunan." (Lee Ki : XXVII).

KELAHIRAN PIK GI
Pernikahan Nabi Khongcu ternyata membawa karunia besar bagi keluarga Khong. Setahun kemudian lahirlah putera tunggal beliau; yang diberi nama Li alias Pik Gi. Nama Li berarti Ikan Gurami diberikan sebagai peringatan pemberian seekor ikan gurami dari Lo Ciau Kong, Raja muda Negeri Lo, ketika upacara genap satu bulan sang bayi, Pik Gi berarti putera pertama yang bernama Ikan. Pik Gi walaupun mendapat pendidikan yang baik dari Nabi, nampaknya tidak banyak mendapat kemajuan dalam mengikuti jejak ayahnya. Meski demikian tidak berarti Pik Gi tidak berperanan dalam perkembangan Agama Khonghucu, sebab anaknya yang bernama Khip alias Cu Su, kelak akan menjadi penerus besar dalam Agama kita, beliaulah yang menulis dan membukukan Kitab Tiong Yong (Kitab Tuntunan Keimanan kita). Seorang adik perempuan Pik Gi, menjadi isteri Kong ya Tiang, murid Nabi.

MENJADI KEPALA DINAS PERTANIAN
Ketika Nabi berusia 20, untuk menanggung beban rumah tangga, beliau bekerja pada kepala keluarga bangsawan besar Kwi Sun. Oleh Kwi Sun, beliau diberi pekerjaan sebagai kepala dinas pertanian. Jabatan ini sesungguhnya kurang sesuai dengan pengetahuan yang beliau miliki, namun beliau tetap melakukan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Beliau mengawasi pekerjaan pengumpulan hasil bumi kepala keluarga itu, dijaganya jangan sampai ada kecurangan dan pemerasan. Di dalam pengaturan tata buku, beliau selenggarakan dengan kesaksamaan dan tertib. Oleh kebijaksanaanNya, dalam waktu singkat dapatlah ditertibkan pekerjaan yang mula-mula tidak beres. Beliau berpedoman, "Seorang Kuncu (Susilawan) mengutamakan kepentingan umum, bukan kelompok, seorang rendah budi mengutamakan kelompok, bukan kepentingan umum, (Lun Gi II : 14)

MEMBERESKAN DINAS PETERNAKAN
Keberhasilan Nabi dalam membina dinas pertanian menyebabkan beliau diberi kepercayaan membereskan dinas peternakan keluarga besar Kwi Sun yang mengalami berbagai kekisruhan.
Tugas baru ini diterima dengan gembira dan penuh kesungguhan hati beliau berusaha membenahi berbagai masalah dalam dinas yg baru ini. Pembagian tempat pengembalaan diatur baik-baik, demikian pula persediaan makanan ternak untuk musim dingin sangat diperhatikan. Dalam lapangan yang baru beliau juga menjaga agar tidak ada penipuan dan pemerasan. Dari pengalaman beliau inilah kelak kita tidak akan heran dan memahami mengapa Nabi selalu menjunjung tinggi kepentingan rakyat.
Dalam waktu relatif singkat beliau berhasil membereskan dinas peternakan ini, semua pembukuan berjalan lancar, hewan ternakpun subur berbiak.

PEMAKAMAN JENAZAH AYAH BUNDA NABI
Ayah Nabi wafat tatkala Nabi baru berusia 3, dan pada tahun 525 SM, Ibu Tin Cai berpulang, ketika Nabi berusia 26. Karena Nabi masih kanak-kanak tatkala ayahNya wafat, menurut adat jaman itu, jenazahnya masih dimakamkan di tempat pemakaman sementara di tepi jaian Ngo Hu, menanti beliau cukup umur untuk melakukan kewajiban pemakaman orang tuanya. Karena itu, setelah wafat IbundaNya, Jenazah orang tua itu dimakamkan di satu tempat di Hong San, Bukit Bentara Sang Sempurna, demikian dinamakan orang kemudian. Disitulah tempat istirahat orang tua yang Nabi, Pendidik dan Pelopor Kemanusiaan dalam menegakkan Firman Gemilang itu untuk selama-lamanya.
“Hati-hati saat orang tua meninggal dan jangan lupa memperingatinya sekalipun telah jauh. Dengan demikian akan menebaIkan Kebajikan.”(Lun Gi I : 9)

MENJADI GURU
Karena wafat ibundanya, Nabi Khongcu meletakkan jabatan melaksanakan perkabungan. Masa ini digunakan lebih memperdalam pengetahuan. Lewat masa berkabung, beliau aktif kembali dalam bekerja. Ketika itu, ternyata nama beliau sudah terkenal, banyak orang terpelajar dan para muda datang kepadaNya memohon nasehat dan berguru. Buah fikirannya menunjukkan pengalaman hidup yang masak dan penuh kebijaksanaan. Waktu beliau berusia 30, telah teguh pendiriannya, penuh semangat dan tekad untuk menolong dunia yg ingkar dari Jalan Suci. Ketika beberapa sahabat mencoba mencegahNya, Nabi berabda, “Janganlah membujuk Aku melepaskan cita. Aku hendak mengabdikan diriKu bagi semua, se-bab sesungguhnya semua manusia itu sekeluarga adanya, dan Thian, menugaskan diriku membimbingnya. UsiaKu sudah 30 tahun, kemauanKu sudah teguh, badanKupun sedang sehat-sehatnya, Aku insaf benar yang akan Kulakukan."

KE NEGERI CIU
Pada tahun 518 SM, dengan diikuti dua orang murid, Bing I Cu dan Lam Kiong King Siok, Nabi Khongcu melakukan perjalanan ke kota Loo Iep, ibukota dinasti Ciu Timur. Dengan kunjungan ini Nabi bermaksud memperdalam pemahaman tentang sejarah, kebudayaan, peradaban, dan musik dinasti Ciu karena di sana memiliki kepustakaan yang lebih lengkap. Tentang asal kedua orang murid sebagai berikut : Kepala Keluarga Besar Bangsawan Bing Tiong Sun bernama Hi Cu ketika menjelang wafatnya memanggil anak-anaknya dan meminta perhatian terhadap Nabi Khongcu yang dinilai bukan saja memiliki pendidikan yang sempurna, juga keturunan keluarga bangsawan negeri Song yang merupakan menterimenteri besar yang Satya, berKebajikan dan tidak tamak. Ia berharap agar sepeninggalnya, Lam Kiong King Siok dan Bing I Cu berguru kepada Nabi Khongcu.